Minggu, 26 April 2026

Ilmu "Ekonomi Islam" mestinya tidak turun dari "Ilmu Ekonomi", tapi dari 'ISLAM'

Ilmu ‘Ekonomi Islam’ harusnya diturunkan langsung dari sumber Islam (Al-Qur'an, Sunnah, ijma', qiyas) untuk menjaga kemurnian ontologisnya, karena Islam menyediakan kerangka lengkap yang holistik. Ada tauhiid sebagai dasar, mengintegrasikan dimensi ukhrawi (akhirat) dengan duniawi. Ini sangat berbeda dari ekonomi konvensional yang sekuler dan materialis. Mengapa?

Karena, pendekatan konvensional, berakar pada kapitalisme (neoklasik) yang mengasumsikan homos economicus rakus profit (Smith's invisible hand), rentan pada riba, gharar dan eksploitasi. Ini semua bertentangan secara dimateral dengan maqasid syariah (hifz al-mal, hifz al-nafs). Turunan langsung Islam ini pasti terhindar dari kontaminasi asumsi Barat, seperti utilitas maksimal tanpa etika ilahi.

Secara epistemologis, derivasi dari ekonomi konvensional meminjam metodologi positifis (model matematis, ekonometri) yang reduksionis, mengabaikan variabel tauhid-adl-maslahah, sehingga hasilkan "Islamic economics" hibrida yang inkonsisten, misal suku bunga disamarkan sebagai "profit rate" tanpa esensi syariah. Kita butuh turunan murni dari ushul fiqh yang menerapkan kaidah syariah (al-ashlu fil asyya' al-ibahah illa ma harrama), produksi halal-tayyib, distribusi zakat-wakaf, hindari israf (Al-A'raf:31), capai falah (kesejahteraan akhirat-dunia). Banyak studi sudah menunjukkan bahwa model konvensional gagal tangani krisis 2008 karena abaikan moral, sementara Islam preventif melalui  larangan maysir.

Ilmu Ekonomi Islam versi asli ini akan pragmatis. Pendekatan murni hasilkan ilmu autentik yang superior: empiris, perbankan syariah lebih resilien pasca-krisis, koperasi syariah kurangi kemiskinan. Derivasi campurana hanya melahirkan kontradiksi, seperti sukuk ribawi atau asuransi konvensional "disyariahkan," hasilnya adalah erosi kepercayaan umat. Ilmu yang murni dari Islam ini akan menciptakan paradigma baru, bukan tambal sulam, sesuai manhaj salaf (Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin). Ekonomi sebagai ibadah, bukan tujuan akhir.

Ilmu ekonomi hanya bicara bagaimana manusia memperoleh kebutuhan untuk hidupnya nya di dunia. Ilmu Ekonomi Islam lebih luas dan lengkap: bagaimana menjalankan kehidupan di dunia namun dijamin juga kehidupan di akhiratnya. Wallahu ‘alam.

Jadi, jika mau bicara 'Ekonomi Islam' lupakan semua konsep dan pemikiran Adam Smith, 
David Ricardo, Thomas Malthus, dan John Stuart Mill. Mari buka alquran, dalami hadist, ikuti cara hidup Rasul. 


******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar