Selasa, 28 April 2026

“Ilmu Ekonomi Pertanian” harus Dibebaskan dari “Ilmu Ekonomi”

 

“…bagaimana mungkin sektor yang paling tidak pasti (pertanian)

justru dijelaskan dengan model yang paling menyukai kepastian (sektor manufaktur)”.

 

Pertanyaan: Apakah ilmu 'Ekonomi Pertanian' (agricultural economy) yang berkembang sejak awal dan sampai saat ini telah benar-benar sesuai untuk karakter khas usaha dan sistem khas pertanian?

 

Jawaban AI: belum sepenuhnya. Ilmu Ekonomi Pertanian yang berkembang sejak awal memang sangat berguna, tetapi banyak bagiannya dibangun dari kerangka Ekonomi Neoklasik yang tidak selalu cocok dengan karakter khas pertanian. Karena itu, hingga sekarang disiplin ini terus “dikoreksi” dan diperluas.

Ilmu Ekonomi Pertanian sejak awal dibangun dengan ambisi yang cukup mulia: menjelaskan dan meningkatkan kinerja sektor pertanian melalui logika efisiensi dan rasionalitas ekonomi. Namun, fondasi analitisnya banyak dipinjam dari Ekonomi Neoklasik—sebuah kerangka yang lahir dari dunia industri yang relatif terkendali, bukan dari ladang yang tunduk pada hujan, hama, dan ketidakpastian biologis. Di sinilah ironi pertama muncul: sektor yang paling tidak pasti justru dijelaskan dengan model yang paling menyukai kepastian. Sejumlah studi klasik seperti Theodore W. Schultz memang menunjukkan bahwa petani “rasional” dalam keterbatasannya, tetapi rasionalitas ini jelas tidak sesederhana fungsi produksi yang rapi di papan tulis.

Lebih jauh, ekonomi pertanian cenderung memperlakukan petani sebagai firm kecil yang mengejar keuntungan maksimal, padahal dalam kenyataannya mereka adalah rumah tangga yang menyeimbangkan produksi, konsumsi, risiko, dan bahkan nilai-nilai sosial. Kritik terhadap asumsi ini telah lama disuarakan oleh Alexander Chayanov, yang menekankan bahwa logika ekonomi rumah tangga petani tidak identik dengan kapitalisme perusahaan. Namun, alih-alih menjadikan ini sebagai pijakan utama, banyak analisis tetap bersikeras memaksakan model pasar sempurna pada konteks pedesaan yang justru ditandai oleh kredit terbatas, informasi asimetris, dan relasi sosial yang kental. Hasilnya? Model yang elegan secara matematis, tetapi sering kikuk ketika berhadapan dengan realitas desa.

Ketika realitas semakin “membandel”, disiplin ini mulai berbenah dengan meminjam perspektif lain seperti Ekonomi Kelembagaan (misalnya melalui karya Douglass C. North), yang mengakui bahwa aturan main, norma, dan kekuasaan membentuk perilaku ekonomi. Di sisi lain, Ekonomi Perilaku menunjukkan bahwa keputusan petani tidak selalu rasional dalam arti sempit, melainkan dipengaruhi oleh bias, pengalaman, dan persepsi risiko. Bahkan, muncul pendekatan seperti Sistem Inovasi Pertanian yang secara implisit mengakui bahwa pertanian bukan sekadar soal produksi dan harga, tetapi tentang jaringan aktor, pengetahuan, dan institusi. Ironisnya, pendekatan-pendekatan ini sering hadir sebagai “tambahan”, bukan sebagai arus utama yang menggantikan asumsi lama.

Dalam konteks negara berkembang seperti Indonesia, ketegangan ini menjadi semakin nyata. Petani kecil beroperasi dalam lingkungan yang jauh dari asumsi pasar ideal, dengan ketergantungan tinggi pada kebijakan publik, program pemerintah, dan jaringan sosial lokal. Namun, analisis ekonomi pertanian sering tetap berangkat dari logika efisiensi individual dan mekanisme pasar, seolah-olah desa adalah miniatur pasar kompetitif. Tidak mengherankan jika banyak kebijakan berbasis analisis tersebut berakhir dengan rekomendasi yang terdengar rasional di atas kertas, tetapi sulit diimplementasikan atau bahkan kontraproduktif di lapangan. Di titik ini, ekonomi pertanian tampak seperti disiplin yang terus berusaha menjelaskan realitas yang sebenarnya enggan mengikuti logikanya.

Dengan demikian, pertanyaannya bukan apakah ekonomi pertanian “salah”, melainkan apakah ia cukup jujur mengakui keterbatasannya. Sejauh ini, jawabannya cenderung setengah hati: ada upaya memperluas perspektif, tetapi kerangka dasar yang diwarisi dari ekonomi neoklasik tetap dominan. Barangkali yang lebih dibutuhkan bukan sekadar penambalan teoritis, melainkan keberanian untuk menerima bahwa pertanian adalah sistem sosial-ekologis yang kompleks—sesuatu yang tidak bisa direduksi menjadi kurva penawaran dan permintaan semata. Sampai titik itu tercapai, ekonomi pertanian akan terus berada dalam posisi yang agak canggung: sangat percaya diri sebagai ilmu, tetapi diam-diam bergantung pada asumsi yang semakin sulit dipertahankan.

******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar