“…bagaimana
mungkin sektor yang paling tidak pasti (pertanian)
justru
dijelaskan dengan model yang paling menyukai kepastian (sektor manufaktur)”.
Pertanyaan: Apakah ilmu 'Ekonomi Pertanian'
(agricultural economy) yang berkembang sejak awal dan sampai saat ini
telah benar-benar sesuai untuk karakter khas usaha dan sistem khas pertanian?
Jawaban AI: belum sepenuhnya. Ilmu Ekonomi
Pertanian yang berkembang sejak awal memang sangat berguna, tetapi banyak
bagiannya dibangun dari kerangka Ekonomi Neoklasik yang tidak selalu cocok
dengan karakter khas pertanian. Karena itu, hingga sekarang disiplin ini
terus “dikoreksi” dan diperluas.
Ilmu Ekonomi Pertanian sejak awal
dibangun dengan ambisi yang cukup mulia: menjelaskan dan meningkatkan kinerja
sektor pertanian melalui logika efisiensi dan rasionalitas ekonomi. Namun, fondasi
analitisnya banyak dipinjam dari Ekonomi Neoklasik—sebuah kerangka yang
lahir dari dunia industri yang relatif terkendali, bukan dari ladang yang
tunduk pada hujan, hama, dan ketidakpastian biologis. Di sinilah ironi pertama
muncul: sektor yang paling tidak pasti justru dijelaskan dengan model yang
paling menyukai kepastian. Sejumlah studi klasik seperti Theodore W.
Schultz memang menunjukkan bahwa petani “rasional” dalam keterbatasannya,
tetapi rasionalitas ini jelas tidak sesederhana fungsi produksi yang rapi di
papan tulis.
Lebih jauh, ekonomi pertanian
cenderung memperlakukan petani sebagai firm kecil yang mengejar
keuntungan maksimal, padahal dalam kenyataannya mereka adalah rumah tangga yang
menyeimbangkan produksi, konsumsi, risiko, dan bahkan nilai-nilai sosial.
Kritik terhadap asumsi ini telah lama disuarakan oleh Alexander Chayanov, yang
menekankan bahwa logika ekonomi rumah tangga petani tidak identik dengan
kapitalisme perusahaan. Namun, alih-alih menjadikan ini sebagai pijakan utama, banyak
analisis tetap bersikeras memaksakan model pasar sempurna pada konteks pedesaan
yang justru ditandai oleh kredit terbatas, informasi asimetris, dan relasi
sosial yang kental. Hasilnya? Model yang elegan secara matematis, tetapi
sering kikuk ketika berhadapan dengan realitas desa.
Ketika realitas semakin
“membandel”, disiplin ini mulai berbenah dengan meminjam perspektif lain
seperti Ekonomi Kelembagaan (misalnya melalui karya Douglass C. North),
yang mengakui bahwa aturan main, norma, dan kekuasaan membentuk perilaku
ekonomi. Di sisi lain, Ekonomi Perilaku menunjukkan bahwa keputusan petani
tidak selalu rasional dalam arti sempit, melainkan dipengaruhi oleh bias,
pengalaman, dan persepsi risiko. Bahkan, muncul pendekatan seperti Sistem
Inovasi Pertanian yang secara implisit mengakui bahwa pertanian bukan sekadar
soal produksi dan harga, tetapi tentang jaringan aktor, pengetahuan, dan
institusi. Ironisnya, pendekatan-pendekatan ini sering hadir sebagai
“tambahan”, bukan sebagai arus utama yang menggantikan asumsi lama.
Dalam konteks negara berkembang
seperti Indonesia, ketegangan ini menjadi semakin nyata. Petani kecil
beroperasi dalam lingkungan yang jauh dari asumsi pasar ideal, dengan
ketergantungan tinggi pada kebijakan publik, program pemerintah, dan jaringan
sosial lokal. Namun, analisis ekonomi pertanian sering tetap berangkat dari
logika efisiensi individual dan mekanisme pasar, seolah-olah desa adalah
miniatur pasar kompetitif. Tidak mengherankan jika banyak kebijakan berbasis
analisis tersebut berakhir dengan rekomendasi yang terdengar rasional di atas
kertas, tetapi sulit diimplementasikan atau bahkan kontraproduktif di lapangan.
Di titik ini, ekonomi pertanian tampak seperti disiplin yang terus berusaha
menjelaskan realitas yang sebenarnya enggan mengikuti logikanya.
Dengan demikian, pertanyaannya
bukan apakah ekonomi pertanian “salah”, melainkan apakah ia cukup jujur
mengakui keterbatasannya. Sejauh ini, jawabannya cenderung setengah hati: ada
upaya memperluas perspektif, tetapi kerangka dasar yang diwarisi dari ekonomi
neoklasik tetap dominan. Barangkali yang lebih dibutuhkan bukan sekadar
penambalan teoritis, melainkan keberanian untuk menerima bahwa pertanian adalah
sistem sosial-ekologis yang kompleks—sesuatu yang tidak bisa direduksi
menjadi kurva penawaran dan permintaan semata. Sampai titik itu tercapai,
ekonomi pertanian akan terus berada dalam posisi yang agak canggung: sangat
percaya diri sebagai ilmu, tetapi diam-diam bergantung pada asumsi yang semakin
sulit dipertahankan.
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar