Kita sering keliru bahkan sombong menyebut diri sebagai "penumbuh". Padahal hakikat petani bukan pencipta, tapi penjaga.
Petani
mencangkul, memberi pupuk, mengalirkan air, mengusir hama. Itu semua adalah “asbab”,
yakni sebab-sebab lahiriah untuk memelihara. Tapi tidak ada satu pun petani di
muka bumi yang mampu membuat satu biji gabah pecah menjadi tunas dengan
kehendaknya sendiri. Ia tidak bisa memerintahkan klorofil untuk bekerja, atau
akar untuk menemukan air. Di titik inilah kesombongan manusia dipatahkan,
karena kita hanya perawat di ladang yang bukan milik kita.
Hakikat
ini Allah tegaskan dengan sangat telak di Al-Qur'an: "Maka terangkanlah
kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang
menumbuhkannya?" (QS. Al-Waqi'ah: 63-64).
Ayat
ini tidak bertanya "siapa yang memelihara", tapi "siapa yang
_menumbuhkan_". Allah sengaja memakai kata Az-Zari'un - Sang
Penumbuh. Kita hanya Al-Harits - si pembajak tanah. Beda kelas. Di ayat
lain diperkuat: "Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami
tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan" (QS. Al-An'am:
99).
Jadi
saudara-saudara, Bapa Ibu rekan tani: air dari langit, hidup dari Allah. Kita
di tengahnya hanya menjadi perantara doa yang bekerja.
Rasulullah
mengunci pemahaman ini dengan hadis yang indah tentang adab bertani: "Tidaklah
seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan,
melainkan itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari & Muslim)
Perhatikan:
Nabi tidak bilang pahalanya karena ia yang menghidupkan tanaman, tapi karena ia
yang “menanamnya”. Pahala itu datang justru ketika ia merelakan hasilnya
dimakan makhluk lain, tanda ia sadar tanaman itu bukan miliknya, melainkan
titipan Allah untuk semua kehidupan. Maka petani sejati adalah orang yang
paling tauhid: tangannya bekerja paling keras di tanah, tapi hatinya paling
yakin bahwa yang menghidupkan bukanlah tangannya. MashaAllah, tabaraqallah.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar