Tanya AI: Sebutkan buku, jurnal, feature, atau tulisan di blog dan lain-lain yang membahas dan menyatakan bahwa sesungguhnya di dunia ini cuma ada satu agama.
Jawaban
AI:
Gagasan
bahwa pada hakikatnya hanya ada satu agama muncul dari beberapa tradisi
pemikiran yang berbeda, dan masing-masing memaknai "satu" dengan cara
yang tidak sama. Uraian berikut mengelompokkannya agar mudah ditelusuri.
Tradisi
Perennial (Filsafat Abadi)
Rujukan
paling klasik datang dari aliran Perennialis atau Tradisionalis, yang
berpendapat bahwa semua agama besar adalah ekspresi lahiriah berbeda dari satu
kebenaran metafisik yang sama. Frithjof Schuon menulis The Transcendent
Unity of Religions (1948), yang menjadi karya fondasional soal
"kesatuan transenden" agama-agama. Pendahulunya, René Guénon,
mengembangkan gagasan tradisi primordial lewat karya seperti The Crisis of
the Modern World dan Introduction to the Study of the Hindu Doctrines.
Aldous
Huxley mempopulerkan istilahnya melalui The Perennial Philosophy
(1945), sementara Huston Smith menulis Forgotten Truth: The Primordial
Tradition (1976) dan karya terkenalnya The World's Religions. Seyyed
Hossein Nasr, dalam Knowledge and the Sacred (1981), dan Martin Lings,
dengan banyak tulisan sufistiknya, melanjutkan garis ini.
Di
Indonesia, versi yang mudah diakses adalah Agama Masa Depan: Perspektif
Filsafat Perennial (2003) karya Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni
Nafis.
Perspektif
Islam: Satu "Din" yang Dibawa Semua Nabi
Dalam
tradisi Islam, klaim ini bersumber dari pemahaman bahwa al-Islām dalam
arti "penyerahan diri kepada Tuhan" adalah satu-satunya din
yang dibawa seluruh nabi, sebagaimana dirujuk dari QS Ali Imran ayat 19 dan 85.
Tafsir The Message of the Qur'an karya Muhammad Asad menjelaskan makna
generik ini dengan cukup jelas. Reza Shah-Kazemi mengembangkannya lebih jauh
dalam The Other in the Light of the One: The Universality of the Qur'an and
Interfaith Dialogue (2006).
Dari
khazanah sufi, Ibn 'Arabi (Fusus al-Hikam dan puisinya Tarjuman
al-Ashwaq) menyatakan "agama cinta" yang melampaui bentuk-bentuk
lahiriah, dan Jalaluddin Rumi dalam Masnavi dan Diwan-e Shams
kerap dikutip untuk gagasan serupa. Di Indonesia, pemikiran ini diperdebatkan
secara luas melalui karya Nurcholish Madjid, terutama Islam, Doktrin dan
Peradaban dan Fiqih Lintas Agama (Paramadina, 2004), serta karya
Budhy Munawar-Rachman seperti Islam Pluralis.
Tradisi
Hindu, Sikh, Bahá'í, dan Gerakan Universalis
Dari
India, ayat Rig Veda "Ekam sat vipra bahudha vadanti"
(Kebenaran itu satu, orang bijak menyebutnya dengan banyak nama) menjadi
jangkar utama. Ajaran Sri Ramakrishna, yang disebarkan Swami Vivekananda, serta
tulisan dan pidato Mahatma Gandhi menegaskan bahwa semua jalan menuju Tuhan
yang sama.
Guru
Nanak, pendiri Sikhisme, dikenal dengan ucapan bahwa tidak ada Hindu dan tidak
ada Muslim. Agama Bahá'í menjadikannya doktrin sentral lewat konsep progressive
revelation, misalnya dalam Kitáb-i-Íqán karya Bahá'u'lláh dan Some
Answered Questions karya 'Abdu'l-Bahá. Hazrat Inayat Khan menulis The
Unity of Religious Ideals dari sudut Sufisme Universal, sedangkan Teosofi
lewat Helena Blavatsky mengembangkan gagasan "kebijaksanaan purba"
yang melandasi semua agama.
Pluralisme
Religius dan Kritik atas Konsep "Agama"
Dari
filsafat agama modern, John Hick dalam An Interpretation of Religion
(1989) mengajukan "hipotesis pluralistik": agama-agama adalah respons
beragam terhadap satu Realitas Tertinggi yang sama. Ini sedikit berbeda dari
"satu agama", tetapi sering dikelompokkan dalam diskusi yang sama.
Wilfred Cantwell Smith, dalam The Meaning and End of Religion (1962),
mengambil jalan lain: ia menggugat bahwa "agama" sebagai entitas
yang terpisah-pisah adalah konstruksi modern. Ulasan ringkasnya bisa dibaca
di Stanford Encyclopedia of Philosophy, pada entri tentang keragaman dan
pluralisme agama.
Jurnal
dan Sumber Daring
Untuk
jurnal, Studies in Comparative Religion (terbit 1967–1987) dan Sophia:
The Journal of Traditional Studies adalah wadah utama kajian Perennialis,
sedangkan situs World Wisdom menyediakan banyak esai dan arsip dari para
penulis tradisi ini. Untuk perspektif pluralisme, jurnal seperti Religious
Studies dan Journal of Ecumenical Studies secara berkala memuat
perdebatannya.
Perlu
dicatat bahwa gagasan ini juga banyak dikritik. Kaum eksklusivis dari berbagai
agama menolaknya karena dianggap mengaburkan klaim kebenaran masing-masing,
sementara sebagian akademisi menilai Perennialisme terlalu mengabaikan
perbedaan doktrinal yang nyata.
*****