Tampilkan postingan dengan label Perennial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perennial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2026

Menelusuri Gagasan “Satu Agama”: Tradisi Perennial, Islam, dan Pluralisme Religius

Tanya AI: Sebutkan buku, jurnal, feature, atau tulisan di blog dan lain-lain yang membahas dan menyatakan bahwa sesungguhnya di dunia ini cuma ada satu agama.

Jawaban AI:

Gagasan bahwa pada hakikatnya hanya ada satu agama muncul dari beberapa tradisi pemikiran yang berbeda, dan masing-masing memaknai "satu" dengan cara yang tidak sama. Uraian berikut mengelompokkannya agar mudah ditelusuri.

Tradisi Perennial (Filsafat Abadi)

Rujukan paling klasik datang dari aliran Perennialis atau Tradisionalis, yang berpendapat bahwa semua agama besar adalah ekspresi lahiriah berbeda dari satu kebenaran metafisik yang sama. Frithjof Schuon menulis The Transcendent Unity of Religions (1948), yang menjadi karya fondasional soal "kesatuan transenden" agama-agama. Pendahulunya, René Guénon, mengembangkan gagasan tradisi primordial lewat karya seperti The Crisis of the Modern World dan Introduction to the Study of the Hindu Doctrines.

Aldous Huxley mempopulerkan istilahnya melalui The Perennial Philosophy (1945), sementara Huston Smith menulis Forgotten Truth: The Primordial Tradition (1976) dan karya terkenalnya The World's Religions. Seyyed Hossein Nasr, dalam Knowledge and the Sacred (1981), dan Martin Lings, dengan banyak tulisan sufistiknya, melanjutkan garis ini.

Di Indonesia, versi yang mudah diakses adalah Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (2003) karya Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis.

Perspektif Islam: Satu "Din" yang Dibawa Semua Nabi

Dalam tradisi Islam, klaim ini bersumber dari pemahaman bahwa al-Islām dalam arti "penyerahan diri kepada Tuhan" adalah satu-satunya din yang dibawa seluruh nabi, sebagaimana dirujuk dari QS Ali Imran ayat 19 dan 85. Tafsir The Message of the Qur'an karya Muhammad Asad menjelaskan makna generik ini dengan cukup jelas. Reza Shah-Kazemi mengembangkannya lebih jauh dalam The Other in the Light of the One: The Universality of the Qur'an and Interfaith Dialogue (2006).

Dari khazanah sufi, Ibn 'Arabi (Fusus al-Hikam dan puisinya Tarjuman al-Ashwaq) menyatakan "agama cinta" yang melampaui bentuk-bentuk lahiriah, dan Jalaluddin Rumi dalam Masnavi dan Diwan-e Shams kerap dikutip untuk gagasan serupa. Di Indonesia, pemikiran ini diperdebatkan secara luas melalui karya Nurcholish Madjid, terutama Islam, Doktrin dan Peradaban dan Fiqih Lintas Agama (Paramadina, 2004), serta karya Budhy Munawar-Rachman seperti Islam Pluralis.

Tradisi Hindu, Sikh, Bahá'í, dan Gerakan Universalis

Dari India, ayat Rig Veda "Ekam sat vipra bahudha vadanti" (Kebenaran itu satu, orang bijak menyebutnya dengan banyak nama) menjadi jangkar utama. Ajaran Sri Ramakrishna, yang disebarkan Swami Vivekananda, serta tulisan dan pidato Mahatma Gandhi menegaskan bahwa semua jalan menuju Tuhan yang sama.

Guru Nanak, pendiri Sikhisme, dikenal dengan ucapan bahwa tidak ada Hindu dan tidak ada Muslim. Agama Bahá'í menjadikannya doktrin sentral lewat konsep progressive revelation, misalnya dalam Kitáb-i-Íqán karya Bahá'u'lláh dan Some Answered Questions karya 'Abdu'l-Bahá. Hazrat Inayat Khan menulis The Unity of Religious Ideals dari sudut Sufisme Universal, sedangkan Teosofi lewat Helena Blavatsky mengembangkan gagasan "kebijaksanaan purba" yang melandasi semua agama.

Pluralisme Religius dan Kritik atas Konsep "Agama"

Dari filsafat agama modern, John Hick dalam An Interpretation of Religion (1989) mengajukan "hipotesis pluralistik": agama-agama adalah respons beragam terhadap satu Realitas Tertinggi yang sama. Ini sedikit berbeda dari "satu agama", tetapi sering dikelompokkan dalam diskusi yang sama. Wilfred Cantwell Smith, dalam The Meaning and End of Religion (1962), mengambil jalan lain: ia menggugat bahwa "agama" sebagai entitas yang terpisah-pisah adalah konstruksi modern. Ulasan ringkasnya bisa dibaca di Stanford Encyclopedia of Philosophy, pada entri tentang keragaman dan pluralisme agama.

Jurnal dan Sumber Daring

Untuk jurnal, Studies in Comparative Religion (terbit 1967–1987) dan Sophia: The Journal of Traditional Studies adalah wadah utama kajian Perennialis, sedangkan situs World Wisdom menyediakan banyak esai dan arsip dari para penulis tradisi ini. Untuk perspektif pluralisme, jurnal seperti Religious Studies dan Journal of Ecumenical Studies secara berkala memuat perdebatannya.

Perlu dicatat bahwa gagasan ini juga banyak dikritik. Kaum eksklusivis dari berbagai agama menolaknya karena dianggap mengaburkan klaim kebenaran masing-masing, sementara sebagian akademisi menilai Perennialisme terlalu mengabaikan perbedaan doktrinal yang nyata.

*****

 

Exploring the Idea of "One Religion": Perennial Tradition, Islam, and Religious Pluralism

AI Query : List books, journals, feature articles, blog posts, and other materials that discuss and assert that there is, in reality, only o...