Ada
satu logika sederhana yang sering kita lewatkan saat bicara agama, yaitu logika
konsistensi sumber (The One Source Theory), atau bisa juga disebut
dengan “postulat Ketauhidan” dan “Teori Konsistensi Wahyu”. Begini enam point urutan
penjelasannya:
1.
Hanya ada sumber tunggal, maka pesan pasti tunggal
Premisnya
absolut: Tuhan itu Satu (Tauhid). Konsekuensi logisnya, ajaran-Nya pasti
satu, konsisten, dan tidak kontradiktif sejak awal penciptaan hingga hari ini.
Jika
Tuhan itu Maha Sempurna, mustahil Dia menurunkan sistem pedoman hidup yang
saling bertabrakan antar zaman. Naahhh, jika saat ini terlihat ada perbedaan,
itu bukan karena sumbernya berbeda, tapi karena transmisi pesannya yang
terdistorsi atau karena kedalaman tafsir kita yang belum sampai. Kita kurang
jauh mainnya, Bro!.
2.
Universalitas petunjuk: tidak ada suku atau kelompok manusia manapun tanpa Rasul
Ini
postulat kedua yang berdasar dalil Qur'ani: “ …. Dan tidak ada suatu umat
pun melainkan telah ada pada mereka seorang pemberi peringatan” (Alquran
surat Fathir: 24).
Maka
secara logis, semua cluster manusia dimana saja - di atas gunung, di
kutub, di hutan Amazon, di pulau terpencil - pasti telah mendapat petunjuk. Pasti
pernah diutus Nabi atau Rasul. Hadis menyebut telah diuturunkan sebanyak 124.000
Nabi dan 313 atau 315 Rasul, 25 yang kita kenal namanya. Artinya tidak ada
istilah agama samawi vs non-samawi. Semua agama pada asalnya adalah agama
samawi, agama dari langit, ya dri Allah SWT yang tunggal. Perbedaannya hanya
pada tingkat keutuhan dan tingkat distorsinya saja.
Sebagian
ajaran masih orisinal, sebagian besar sudah mengalami information bias, dibelokkan,
ditambah, dikurangi oleh kepentingan kekuasaan dan waktu.
3.
Islam sebagai nama generik dari konsistensi itu
Jika
semua pesan itu konsisten, maka nama generik untuk semua pesan yang konsisten
itu adalah ‘Islam’ - yang artinya kepasrahan total pada Sumber
Tunggal tersebut.
Semua
ajaran para Nabi itu pada hakikatnya adalah Islam dalam versinya masing-masing,
dengan tingkat kelengkapan syariat yang berbeda sesuai konteks zamannya. Lalu
semua versi itu disempurnakan, dilengkapi, dan digenapkan pada versi final
yakni: Al-Qur'an.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan
nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu” (QS.
Al-Maidah: 3). Jadi, Alquran adalah penutup. Semua ajaran dari Nabi dan Rasul
beribu-ribu tahun sebelumnya telah digabung disatukan disempurnakan dalam
Alquran.
4.
Intertekstualitas Para Rasul: semua Rasul saling mengenal dan mengakui
Ciri
dari sistem yang konsisten adalah aktor-aktornya saling terhubung. Para Rasul
saling mengenal dan mengakui, bukan saling menegasikan. Injil menyebut Ahmad,
Al-Qur'an menyebut Musa, Isa, Sulaiman, Adam dalam satu garis keturunan wahyu
yang sama. Posisi mereka setara sebagai channel atau penyampai, bukan
kompetitor. Isi pesannya sama saja, persis sama: Tauhid. Jika
hari ini terlihat berbeda, itu karena distorsi.
Ini
yang dalam sosiologi agama disebut “perennial chain” (rantai abadi
kebenaran yang sama). Yakni rantai transmisi nilai, pengetahuan, otoritas, dan
pengalaman spiritual yang menghubungkan generasi sekarang dengan sumber wahyu
atau tradisi suci masa lalu secara berkesinambungan.
5.
Al-Qur'an Sebagai Kitab Final dan Preservasi
Agar
kebingungan akibat distorsi ribuan tahun itu selesai, maka diperlukan satu
kitab yang berfungsi sebagai master copy, yang paling lengkap,
terstruktur, dan sengaja dijaga keabadiannya. Pasti terjaga. Tidak seperti
kitab-kitab suci lain yang Allah tidak mengatakan akan menjaga keasliannya.
Al-Qur'an
memposisikan diri seperti itu: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan
Al-Dzikr, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”(QS. Al-Hijr: 9).
Satu-satunya kitab yang klaim preservasinya tidak satu huruf pun berubah,
sehingga menjadi standar untuk menguji konsistensi ajaran-ajaran sebelumnya.
6.
Kesimpulan Epistemologis
Wallahu alam bissawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar