Sabtu, 03 Oktober 2026

Ingat: Petani hanya memelihara, Allah yang MENUMBUHKAN

 Kita sering keliru menyebut diri sebagai penumbuh. Padahal hakikat petani bukan pencipta, tapi penjaga. 

Petani mencangkul, memberi pupuk, mengalirkan air, mengusir hama. Itu semua adalah _asbab_ - sebab-sebab lahiriah untuk memelihara. Tapi tidak ada satu pun petani di muka bumi yang mampu membuat satu biji gabah pecah menjadi tunas dengan kehendaknya sendiri. Ia tidak bisa memerintahkan klorofil untuk bekerja, atau akar untuk menemukan air. Di titik inilah kesombongan manusia dipatahkan, karena kita hanya perawat di ladang yang bukan milik kita.

Hakikat ini Allah tegaskan dengan sangat telak di Al-Qur'an:

*أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ، أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ*

_"Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?"_ *(QS. Al-Waqi'ah: 63-64)*

Ayat ini tidak bertanya "siapa yang memelihara", tapi "siapa yang _menumbuhkan_". Allah sengaja memakai kata _Az-Zari'un_ - Sang Penumbuh. Kita hanya _Al-Harits_ - si pembajak tanah. Beda kelas. Di ayat lain diperkuat: _"Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan"_ *(QS. Al-An'am: 99)*. Air dari langit, hidup dari Allah. Kita di tengahnya hanya menjadi perantara doa yang bekerja.

Rasulullah mengunci pemahaman ini dengan hadis yang indah tentang adab bertani:

*مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ*

_"Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya."_ *(HR. Bukhari & Muslim)*

Perhatikan: Nabi tidak bilang pahalanya karena ia yang menghidupkan tanaman, tapi karena ia yang _menanamnya_. Pahala itu datang justru ketika ia merelakan hasilnya dimakan makhluk lain, tanda ia sadar tanaman itu bukan miliknya, melainkan titipan Allah untuk semua kehidupan. Maka petani sejati adalah orang yang paling tauhid: tangannya bekerja paling keras di tanah, tapi hatinya paling yakin bahwa yang menghidupkan bukanlah tangannya.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapa pencetus ilmu "Sosial Ekonomi Pertanian Islam"?

  Yoo tanya AI: Sebutkan siapa,  buku apa atau jurnal apa yang pertama menyebut / merumuskan tentang ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Islam ata...